Halaman

Jumat, 01 Maret 2013

Episode Pondok Romadlon

1 komentar
Rabu 20 Juni 1984, pagi wib
Ada acara yakni kegiatan bulan Romadlon di sekolah. Pagi itu habis makan sahur bersama Rita, saya tidur lagi. Bangun tidur mandi, dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Oh ya, waktu mandi tadi, Setyo Margo Utomo datang ke rumah untuk menyampaikan surat ijin tidak masuk. Katanya ke Surabaya. Yang menerima surat Mbak Ana. Saya tidak sempat bicara dengannya. Dari tempat pemberhentian colt (pertigaan) saya naik colt. Di situ terdapat teman wanita saya yang satu kelas dg ku, yakni Elvy Dwi Arianita, Rullys dan Emy Nurhayati. Sampai di terminal Ngawi saya jalan kaki seorang diri. Sedang ketiga cewek tadi naik becak. Jalan kaki sendiri rasanya lama sekali. Jadwal kegiatan Romadlon ini adalah :
Tanggal 14-15 dua hari dua malam kelas I ABCD
Tanggal 16-17 dua hari dua malam kelas I EFGH
Tanggal 18-19 dua hari dua malam kelas II ABCD
Tanggal 20-21 dua hari dua malam kelas II EFGH
Perlu diketahui, bahwa kelas I di atas adalah calon kelas II
Sedang kelas II adalah calon kelas III, diantaranya saya II H
Acara pertama kali adalah : Ceramah Hikmah Puasa oleh Pak Mundzir. Setelah itu anak-2 diberi waktu 5 menit untuk mencari air. Kemudian saya mengajak Angkat ke kantor PLN untuk membayar listrik. Jalan kaki lewat belakang sekolah.
Sesampai di sana yang membayar banyak sekali. Oleh karena saya tidak mau antri maka saya kembali ke sekolah, setelah di sana kira-2 5 menit. Kembali ke sekolahan juga lewat belakang. Sampai di sana ceramahnya Pak Slamet (KS) tentang P4. Setelah itu anak-2 diperkenankan berbelanja untuk berbuka. Waktu masak di dekat warungnya Mbak Warti, saya main kartu bersama Wawan dan Dodik, Setelah dg Agus Dwianto, Angkat, Agus DPH main kartu yg disebut malingan. Kemudian saya main malingan dg Dodik. Tiba-2 dari barat Pak Slamet Hadi Susilo datang & menegur agar saya tidak main kartu. 
Tempat untuk tinggal selama Kegiatan Romadlon adalah :
Putra : Klas II E tinggal di ruang klas III A, Klas II F  di kelas III B, dst
Putri : Klas II E tinggal di ruang klas III G dst
Putra, 1 klas dibagi  3 kelompok, demikian juga untuk putri

Rabu 20 Juni 1984 15.05 wib
Pergi ke rumahnya Krama Bagyo Sugiharto untuk mandi, bersama dg : Farid, Angkat dan Dodik, naik sepeda.  Di rumahnya Bagyo ngobrol-ngobrol dengan Ayah & Ibunya Bagyo. Kemudian mandi. Saya mandi duluan, setelah saya baru Dodik, Farid terus Bagyo. Kembali ke sekolahan. Sembahyang Ashar dg Farid di Musholla. Saya sebagai Imam dan Farid ma'mun tunggal. Sebenarnya sholatnya berjama'ah, tempatnya di klas II G. Tapi saya datang terlambat. Habis sholat mau ganti pakaian. Bersama Farid dg memakai sepedanya Hari pergi ke rumahnya Farid untuk ganti pakaian. Ini dilakukan habis berbuka. Sholat Maghrib di rumahnya Farid. Beli jajan di rumahnya Mbak Warti. Sebelum berbuka tadi, saya dan Farid karena tidak membawa piring & sendok maka pinjam pada anak putri yakni pada Rullys. Saya disuruh beli es Rp. 100, tapi baru saya belikan habis berbuka. Ketika saya berjalan dekat dekat tempat sepeda bertemu Retno dan Bibit yang akan cuci piring membawa termos saya disuruh ambil air, tapi saya tidak mau. Kemudian pinjam termos yang dibawa & saya beli es di warungnya Mbak Warti, sedang kedua anak itu tidak jadi cuci piring.

Rabu 20 Juni 1984 18.45 wib
Sholat Isya' dan Tarawih. Habis sholat tadarus (ngaji), kelas II H diwakili saya, Latif, Farid, Sunarno, Kasno

Rabu, 27 Februari 2013

Episode SMP (bag:2)

3 komentar
Selasa 13 Maret 1984, 12.20 wib
Praktikum Biologi kelompok V waktu menjawab pertanyaan tentang pernafasan katak yang sudah ditunjukkan dg gambar, tidak dapat menjawab. Karena tadi sebelum dimulai Pak Munif sudah mengatakan kalau nanti ada yang tidak bisa menjawab suruh ngepel WC, maka sesuai dengan ucapannya tadi Pak Munif menyuruh kelompok V yg terdiri dari "Sunarno, Agus Dwi Pitoyo Hadi, Eko Yudo, Nuryanto, Joko Prihantoro, Bibit Lestariani, Erni dan Harni" ngepel WC, sementara yang lain diberi PR dan ulangan pencernaan dibagikan. Saya dapat nilai 76.

Rabu 14 Maret 1984, 07.08 wib
Berangkat sekolah bersama Lik Sakip, di depan kantor Perhutani ketemu kawannya Lik Sakip. Ia bertanya, "Jantung sehat opo tak gonceng ?" (jalan apa saya bonceng) Lik Sakip menjawab, "Goncengna adikku iki wae." (kamu bonceng adik saya ini saja) Lalu saya dibonceng sampai di depan sekolahan. Tiba di sekolah pelajaran Olah Raga, anak-2 sudah lari-2. Saya terlambat. Memang beberapa hari ini saya slalu datang terlambat. Hal ini memang saya sengaja. Olah Raganya anak putri bebas main volley. Anak putra sit-up dan kayang di dalam kelas. Waktu sit-up, saya yang menghitung Siauw Han. Sebelum tiba giliran saya, saya melihat absen tentang siapa nanti yang menghitung saya. Setelah kuketahui bahwa Siauw Han, saya hubungi dia. Ia saya bilangi supaya dlm menghitung nanti ditambahi. Saya mendapat 32 dan Siauw Han saya suruh mengatakan 40.

Rabu 14 Maret 1984, 09.12
Waktu istirahat Wawan menyuruh Yunus beli tempe Rp. 100 dapat 5 buah. Yang makan saya, Wawan, Eko, Farid, Yunus dg Hari Wibowo.

Jum'at 16 Maret 1984, 07.15 wib
Anak-2 yg ikut ketrampilan dekorasi disuruh membawa janur dan peralatan dekorasi. KArena akan dishooting (Acara TVRI : Arena Pelajar SMP). Kelompok saya, Priyanto, Dodik dan Siauw Han. Membuat hiasan dengan apa yang disebut "GABUGAN" oleh yang menemukan.

Jum'at 16 Maret 1984, 11.00 wib
Pulang sekolah ke pondokannya Wawan bin Sukarti binti Sumarti, karena sembahyang Jum'at. Tapi Wawan dan Mas Sus tidak sembahyang, yang sembahyang saya dan Narwan. Naik Suzuki FR 80 milik Narwan. Sesampai di masjid habis sholat Tahiyatul Masjid saya melamun sambil ngobrol dg Narwan.
Dalam lamunanku aku teringat akan tas yang kutinggal di pondokan. Saya nebduga pasti kedua "BEDHES ELEK" (monyet jelek) itu kini sedang mengobrak abrik tasku. Dugaanku tidak meleset rupanya. Kedua BEDHES ELEK itu ketik aku pulang dari masjid menyindir dg kata-2 yg terdapat dlm agendaku al :"Nang tak gonceng apa jantung sehat ?" kata BEDHES yg satu. Saya semula tidak tahu akan sindiran itu. Tapi ketika BEDHES itu menyindir lagi, barulah saya tahu. "Wawan menyuruh Yunus beli tempe dst .."

Jum'at 16 Maret 1984,12.30 wib.
Pulang sekolah diantar Narwan. Waktu naik colt dlm perjalanan pulang, dg seorang yg kelihatannya asing di sini. Tiba-2 saja ia bertanya padaku, "SMP dik sekolahnya ?" Kujawab "Ya !" "Tak kasih buku mau ?" Tentu saja saya mau, & buku itupun diberikan saya. Tiga buah buku tulis. Nama orang itu Muslim. Orang Sby.

Selasa 3 April 1984, pagi
Waktu pelajaran Kesenian karena Bu Sumini repot mengurusi EBTA Praktek, Kasno disuruh mencatat tentang Stakato (cara memanjang mendekkan nada) Tapi anak-2 banyak yang tidak mancatat. Mereka asyik main catur. Yang bawa catur Angkat & Siauw Han.

Rabu 4 April 1984, 07.15 wib
Pelajaran pertama OR. Tapi Pak Maryanto mengajar EBTA Praktek entah di SMP mana. Anak-anak putra OR sendiri, yakni sepak bola. Mulanya anak-2 duduk-2 di dekat taman (waktu saya kelas I) Lalu saya mengajak Yunus & Agus Priyanto main catur. Sampai di kelas pintu tertutup. Yang ada di dalam anak putri semua. Mengambil caturnya Angkat & main dg Yunus. Pertama kalah, kedua menang (sebenarnya pd permainan kedua ada kekeliruan, yakni Star kami keliru di tempat raja) Maka dalam permainan ini Yunus dapat kukalahkan dg mudah. Waktu bermain catur, Yusuf dan Nuryanto datang terlambat. Kedua anak itu lalu sendau gurau & akhirnya keduanya berkelahi.

Sabtu 7 April 1984, siang
Waktu pelajaran Bahasa Daerah BAB Pepeling, Pak Paeran bertanya "Pepeling iku rimbage apa ?" anak-2 tdk ada yg bisa menjawab. Kemarin ia juga menanyakan hal itu. Tapi anak-2 tak ada yg dpt. Kemudian ia menyuruh ketua kelas bertanya pada II E yang kebetulan tidak diajar karena Sri Hadiati mengajar Praktek EBTA (menjahit). Lama Bagyo tidak datang, Wakil Ketua disuruh menyusul. Saya keluar Bagyo sudah akan masuk. Kami berdua masuk. Bagyo ditanya apa jawabnya. Bagyo menjawab rimbag Pepeling ialah "Pe". Karena masih salah, saya sebagai wakil ketua disuruh tanya lagi. Saya tanya pada Setyo Margo. Jawab "dwi purwo". Lalu Bagyo datang pada saya (di klas II E) & bilang bahwa anak II E yang saya tanyai dipanggil ke klas II H. Saya mengajak Setyo, tapi tidak mau. Ia takut kalau salah. Agus Priyanto (Petruk) yg duduk di depan Setyo mengatakan bahwa jawabnya "Pa" Setyo membenarkan tapi dia tidak mau juga saya ajak ke II H. Ia menyarankan agar saya mengajak Kristianto, Kuswartanto dll, tapi tidak mau. Saya lalu mengajak Oktin tapi ia tidak mau juga. Saya dan Bagyo kembali ke kelas, ditanyai pertanyaan  serupa. Kujawab "Rimbag Pa". Karena salah, saya & Bagyo ditanya, "Siapa anak II E yg kautanyai ?" "Setyo", jawabku. Pergi ke klas II E bersama P Paeran. Di sana anak-2 II E ditanya,"Pepeling iku rimbage apa ?" Anak II E menjawab "Dwi purwo". Bagyo dan aku ditempeleng olehnya. Demikian juga Setyo.

Selasa 15 Mei 1984, pagi wib
Ulangan Sumatif Bahasa Indonesia & PMP. Lokasi klas 3 & 1 G. Duduk bersama Oktafianto Panca Wardana IIG. Di belakang sendiri (deret kedua dari utara)

Jum'at 18 Mei 1984, pagi wib
Ulangan Sumatif Phisica & Bahasa Inggris. Waktu Ulangan Phisica saya bawa contekan yang saya taruh pada kalkulator "SHARP" milik Pak Lik. Yang jaga (pengawas) Pak Slamet Hadi Susilo.

Jum'at 8 Juni 1984, siang wib
Pulang sekolah sampai di pertigaan (Kartonyono) bergabung dg Joko Trisula Utama & Priyanto. Dari  utara ada Toyota Hartop Putih yg di dalamnya ada Iful (Ahmad Haiful, rumahnya komplek PG. Soedhono). Lalu Joko mengajak saya nunut. Pulang naik Hartop, sampai di depan SD Tambakromo II ada orang berkerumun. Ternyata sebuah truck masuk gang (jalan menuju Musholla) Untunglah tidak menabrak rumah. Tiba di rumah diberitahu bahwa truck tsb menabrak Amin (Siti Aminah tetangga, anak Pak Tamin). Katanya kepalanya pecah. Pada hari itu Ibuk tidak ada. Pergi ke Surabaya bersama dg Ayah, tapi Ayah sudah pulang tadi pagi.

Selasa, 26 Februari 2013

Senin, 25 Februari 2013

Mengapa Bu Hastuti ?

2 komentar
Seusai upacara hari Senin itu, salah satu siswa kelas III H, yang sejak beberapa upacara sebelumnya begitu antusias memperhatikan jalannya upacara bendera, terutama di deret barisan Guru yang ada di sebelah depan berhadapan dengan barisan siswa, seorang siswa yang bernama Anang Dwijo Suryanto, yang kebetulan juga siswa perwalian Bu Hastuti, menghampiri beliau dan mengajukan satu permohonan. "Maaf Bu Hastuti, bolehkah kiranya saya bertanya beberapa hal kepada Ibu, jika Ibu berkenan dan ada waktu luang ?" "Oh, .. kamu Nang .. ada apa ini ya .. ? Boleh-boleh saja. Sebaiknya nanti saat istirahat saja ya ? Di Ruang BK, bagaimana ?" Jawab dan sekaligus tanya beliau. Sang murid pun mengangguk sambil tersenyum.
Saat istirahat, saat biasanya Anang beli jajan atau dibelikan jajan tempe Rp. 100 dapat 5 dan dimakan rame-2, oleh Widyatmoko Kurniawan, yang sekarang menjadi seorang Dokter Bedah di Lampung, ia bergegas seorang diri pergi ke Ruang BK. Menimbulkan tanda tanya beberapa temannya yang lain.
Di Ruang BK, Bu Hastuti, sang Wali Kelas sudah menunggu dengan senyum ramahnya. Tanpa menutupi rasa ingin tahunya beliau langsung bertanya.
"Ada apa to Nang ? Sepertinya koq serius sekali ?"
"Ehm ... begini Bu, .. gimana ya, .. saya agak malu ini menanyakan pada Ibu."
"Sudahlah, nggak apa-apa koq, .. kalau ini menyangkut hal-hal pribadi atau rahasia, Insya Allah Ibu berusaha untuk merahasiakannya, .. Jadi, .. kamu ndak usah khawatir. Ayo mau tanya apa ?"
"Begini Bu Hastuti, setiap kali upacara bendera, saya selalu memperhatikan deretan Guru. Beberapa Guru, baik Bapak atau Ibu Guru, saya amati pasti ada yang ngobrol dengan Guru di sebelahnya. Ada yang guyon jegigisan. Ada yang begitu pembawa acara mulai membaca susunan acara, begitu pula mereka mulai ngobrol hingga upacara selesai. Atau pada saat sikap istirahat, ada yang sedakep, dsb. Bahkan Bu yang lebih membuat saya prihatin, pada saat mengheningkan cipta atau pas doa, koq ya masih sempat-sempatnya mereka berbisik-bisik."
"Lho Nang, kalau kamu tahu persis apa yang Bapak Ibu Guru lakukan di barisan depan, berarti kamu nggak mengikuti upacara dengan tertib dan baik ya ?"
"Iya Bu, .. terdorong rasa ingin tahu saya, waktu mengheningkan cipta atau berdoa, saya tidak menunduk dan tetap mengawasi mereka Bu."
"Lha terus apa yang ingin kamu tanyakan pada Ibu, Nang .. ?"
"Begini Bu, selain saya mengamati beliau-beliau, saya paling jeli mengamati Bu Hastuti."
"Ah, kamu ini Nang, .. ada-ada saja .. Terus .. ?"
"Sejak awal pengamatan saya Bu, .. saya tidak pernah melihat Bu Hastuti berbicara sesaat pun pada Bapak Ibu Guru yang ada di sebelah Bu Hastuti. Ibu begitu khitmad dan terkesan sangat sombong, ketika beberapa kali ada Guru di sebelah Ibu bertanya pada Ibu, dan Ibu hanya sedikit menoleh saja, dengan senyum atau sedikit anggukan saja. Sikap Ibu juga selalu seperti sikap yang dikomandokan pemimpin upacara."
"Terus, .. kenapa Nang ?"
"Justeru saya yang akan menanyakan pertanyaan tersebut pada Ibu. Kenapa Bu ? Dan bagaimana Ibu bisa bersikap seperti itu ?"
"Ooh .. itu to Nang ... begini, .. Setiap upacara bendera, Pembina upacara kan pasti menekankan kedisiplinan dan ketertiban. Ya to ? Karena salah satu tujuan dari upacara bendera sendiri adalah membentuk jiwa disiplin & tertib. Sikap kita pada saat upacara adalah cermin disiplin kita, yang akan teraplikasikan dalam kehidupan kita sehari-2. Ibu sangat menjaga kehormatan Bapak Ibu Guru Pembina yang selalu berupaya mendisiplinkan para siswanya. Bahkan ketika ada siswa yang tidak tertib seragamnya, bersikap tidak sesuai dengan komando pemimpin upacara, atau ada yang bicara sendiri, pasti mereka mendapat sanksi bukan ?"
"Ya Bu, .. saya juga pernah ditempeleng Pak Suhari, waktu saya menjawab pertanyaan Yunus saat upacara." Sela Anang menyela penjelasan Bu Hastuti.
"Nah itulah ... pembinaan kedisiplinan lewat upacara ini sebenarnya bukan melulu untuk siswa Nang. Tapi juga Guru-guru. Karena kami pun juga Peserta Upacara. Iya kan ?" Kalau kamu harus ditempeleng karena bicara pada saat upacara berlangsung, .. sementara kami yang di barisan depan justeru bicara sendiri bahkan sampai jegigisan menurutmu tadi, .. itu artinya apa ? Artinya kami tidak menghargai Bapak Suhari yang telah menempeleng kamu, atau pembina upacara yang selalu mengajak disiplin, termasuk Ibu yang pada saat menjadi Pembina Upacara juga mengajak & mengharuskan siswanya untuk disiplin. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa di akherat ada seorang yang berwajah keledai dengan usus terburai berjalan berputar-2. Lalu penghuni neraka bertanya, bukankah engkau si fulan yang selalu mengajak kami pada kebaikan ? Mengapa kamu bisa seperti ini ? Jawab yang ditanya, iya benar, saya sering mengajak kebaikan, tapi saya tidak pernah melaksanakannya. Lagian Nang, ... kami ini Guru. Yang katanya digugu dan ditiru, maka kami harus memberikan contoh & teladan bagi murid-2nya. Tidak boleh hanya pandai bicara, menuntut siswa tanpa memberikan keteladanan. Karena itu akan sia-sia. Ingat Nang, .. sebuah contoh atau keteladanan, itu jauh lebih mengena, berarti dan bermakna dari pada ribuan kata yang diucap hingga berbuih berbusa .. begitu."
"Ooo jadi begitu ya Bu Hastuti, ... Jadi Ibu, ... ", belum selesai Anang berkata terdengar bel tanda istirahat usai. "Maaf Bu, waktu istirahat sudah habis, ... mungkin wawancara saya cukup sampai di sini dulu. Terima kasih banyak atas waktu dan penjelasan ibu. Semoga saya kelak mampu menerapkan prinsip Bu Hastuti ini di masa mendatang. Aamiin".
"Iya Nang ... doa Ibu menyertaimu ... "

Rabu, 20 Februari 2013

SMP ku ... kini ...

4 komentar
Pagar depan, tempat biasa membeli es kelapa muda di trotoar depan sekolah
Pintu masuk ruang utama yang semakin megah, dulunya ruang kelas untuk kelas II yang masuk bergiliran pagi dan siang, setidaknya menurut perkiraanku
Ruang Kelas I & III H yang sekarang menjadi Ruang Kelas G
 Sisi dalam Ruang Kelas H, kini dan dulu
Musholla yang akrab untuk sholat Ashar saat giliran masuk sore
Ruang GC/BK yang telah berubah fungsi menjadi Kantin Kejujuran




Dokumen Kelas, ... SMP

2 komentar







Selasa, 19 Februari 2013

Sebuah Catatan Tentang Buku Harian

2 komentar
Kujumpai buku harian yang telah usang berbaur dengan buku-buku pelajaranku tempoe doeloe. Entah mengapa hatiku jadi tergerak untuk membacanya. Kubuka lembar demi lembar. Kubaca kalimat demi kalimat. Di sana tersimpan peristiwa dan berbagai peristiwa yang aku pernah alami. Dengan bahasa tulis yang acak-acakan dan dengan tulisan mirip cakar ayam, kurangkai peristiwa demi peristiwa yang aku alami hingga hal yang sepele sekalipun. Kadang aku jadi tertawa sendiri demi kuketahui penggunaan bahasa dan gayanya yang kupakai. Tidak jarang pula aku sangat terharu dan tenggelam dalam masa peristiwa sebagai yang tersurat dalam buku harian itu. Aku menjadi teringat masa-masa yang kualami dahulu. Sepertinya aku tengah mengulangi peristiwa-peristiwa masa lalu itu. Begitu jelasnya peristiwa-2 itu terngiang dalam ingatanku. Bagai di alam lain saja layaknya. Tapi semuanya itu kini tinggal kenangan. Kenangan yang sebenarnya enggan untuk aku ingat. Bukan karena apa aku enggan. Melainkan rasa terharu itulah yang menyebabkannya. Yah ... semuanya tinggal kenangan. Wahai teman-temanku adakah dirimu jug apernah mengalami perasaan-perasaan sepertiku, kadang-kadang ? Atau mungkin suatu saat ? Yah semuanya tinggal kenangan. Kenangan bagiku dan bagimu semua. (10 Januari 1987)

Guru-guruku, ... SMP

13 komentar
Sebelumnya kepada Bapak Ibu Guruku yang terekam dalam catatan tentang Guru ku ini, saya mohon maaf yang sebesarnya, karena ketika itu saya menggunakan kata-kata yang mungkin terdengar, ehm maaf, terbaca maksud saya, kasar, tidak sopan dan mencerminkan ketidak hormatan saya pada Panjenengan. Tapi, itulah ... dengan kondisi emosi saya ketika itu, dengan gaya bahasa seperti itulah pada akhirnya, apa yang saya rasakan, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Dan demi orisinilitas tulisan saya, maka tidak ada dari tulisan tersebut yang saya edit agar terdengar, maksud saya terbaca agak lebih sopan. Sekali lagi saya mohon maaf.

Catatan tentang beberapa Guru yang pernah mengajar aku :

Bu Hastuti
Guru Bahasa Indonesia dan Wali Kelasku waktu aku duduk di bangku kelas III. Dia adalah Guru tergenit yang pernah aku kenal. Kegenitan selalu mewarnai dirinya pada waktu memberikan pelajaran kepada kami. Aku sering dicentil telingaku, karena aku tak membawa buku paket Bahasa Indonesia. Adapun sebabnya aku tak membawa buku itu adalah karena bukuku sakit lepra. Aku kira tindakanku untuk tidak membawa buku yang lepra itu cukup dan bahkan sangat bijaksana. Tapi rupanya tindakanku itu ditentangnya. Ada sebuah kisah tentang dia dan aku yang membuat seisi kelas terbawa.
Tanggal 9 Januari, hari Rabu jam 11.37. Delapan lima tahunnya. Pelajaran terakhir Bahasa Indonesia. Dia menerangkan tentang riwayat Angkatan Pujangga Baru. Beberapa teman di antaraku disuruhnya maju ke muka untuk mengulang apa yang baru diterangkan. Dodik salah satu di antaranya, tak mau maju ketika disuruhnya. Tak ada tindakan apa-apa darinya terhadap Dodik sehubungan dengan hal ini. Dia pun lalu menyuruh aku, Anang Dwijo Suryanto, untuk maju ke muka menerangkan riwayat Angkatan Pujangga Baru yang diterangkannya barusan. Aku mengikuti jejak Dodik dengan tak mau maju ketika disuruh. Apa yang terjadi ? Lho koq tanya saya ! Eh iya saya lupa. Selanjutnya ia mengancam aku. Jika dihitung sampai tiga kali tak juga aku maju, dia akan keluar dari klasku dan tak mau mengajar. Bukan hanya itu saja. Dia juga mengancam akan men"skors" aku tak boleh ikut pelajaran Bahasa Indonesia, .....Seumur Hidup ! Tak dapatlah seisi klas menahan tawa mendengar hal itu. "Wah ... Guru ini rupanya sentimen dengan aku", pikirku. Anak-anak putri temanku yang takut akan ancaman itu, menyuruh aku untuk maju.
Itulah kisahku dengan dia; Bu Hastuti yang tak dapat kulupakan sepanjang hidupku. (Mei 1985 hari ke-dua)

Bu Sarikem
Guru ini sabar dan aku senang diajarnya. Dia mengajar aku Bahasa Indonesia, ketika aku duduk di kelas satu. Saking sabarnya dia menghadapi aku dan temanku yang nakal ini sampai-sampai dia pernah menangis. Menangis melihat kelakuan dan sikap kami waktu diajar dia. Kisahku dengan dia begini ceritanya :
Harinya saya lupa, waktu pelajaran Bahasa Indonesia dia masuk ke klasku dan langsung menanya anak-anak, "Hari ini ulangan anak-anak ?" "Tidak Bu !", jawab anak-anak serentak. Lalu aku nimbrung dan berkata padanya, "Belum diberitai koq Bu". "Ya, kalau diberitai kamu tidak mau. kalau diberitahu kamu mau". jawabnya. (Mei delapan lima hari ke-tiga)

Bpk. Maryanto
Wali Klasku waktu aku kelas satu. Mengajar Olah raga dan Kesehatan klas satu dan klas dua waktu masuk pagi. Dialah orang yang memilih aku menjadi wakil ketua kelas menggantikan wakil ketua klas yang pindah, di klas satu di luar sepengetahuan teman-temanku. Kisah yang perlu dicatat tentang dia adalah ketika aku duduk di klas dua masuk siang.
Tanggal 15 Nopember Hari Selasa jam 15.05 delapan empat Waktu pelajaran Bahasa Inggris ada pemeriksaan bed nama. Sebenarnya aku tlah memasang bed nama. Namun yang kupasang bukanlah bed namaku. Melainkan bed nama nama temanku Widyatmoko. Bagian huruf "Widy dan "ko" aku hapus hapus dengan spidol. Hingga tinggal hurufnya a, t, m, o saj, yang bila dibaca berbunyi (ini kalau membacanya dengan berbunyi, kalau dalam hati ... ya ... tidak berbunyi) "atmo". Bagi anak yang belum pasang bed mendapat cubitan di bagian mana bed dipasang. Namun bagi anak putri hal ini merupakan perkecualian. Soalnya, ... Soalnya bed nama memasangnya di bagian dada sebelah kanan. Persis di atasnya buah .... itu lho ... dada. Pahamkan ?
Tiba giliranku untuk diperiksa. Dibacanya bed nama yang aku pasang, "atmo". Meski sebenarnya aku tlah pasang bed namun aku dicubit jua. KArena yang kupasang bukan bed namaku. Sambil nyubit dia nyeloteh "Kowe arep nylolek neng klas loro ???" (Mei delapan lima hari ke-dua)

Bu Fransiska Widyastuti
Dia mengajar aku Fisika ketika aku duduk di kelas satu. Cara memberikan pelajaran pada kami mudah kami terima. Meski sebenarnya sukar pelajaran yang diberikannya. Aku tidak sombong lho. Kukira Guru ini ada-ada sama aku. Aku tak ge-er lho ! Itu aku ambil dari perlakuannya padaku yang tidak dilakukan pada teman-temanku. Inilah contoh perlakuannya padaku yang agak berkesan di hatiku. Dia menerangkan soal-soal Fisika. Setelah cara-caranya diberikan, dia lalu membuat contoh soal  dan dikerjakannya. Mengerjakannya hanya separo. Dengan melemparkan kapur yang dibawanya padaku, dia berkata "Coba kamu lanjutkan Nang !" Hal ini boleh aku katakan agak sering kualami dan teman-temanku sekelas sendiri tak pernah mengalami hal serupa itu. Itulah kisahku dengan dia (Mei delapan lima hari ke-lima)

Bp. Warsito
Dia mengajar aku dan teman-temanku di kelas dua Bahasa Indonesia dan menjadi Wali Klasku di klas dua juga waktu masuk siang. Ada, .. aku juga ada kisah tentang Pak Warsito ini. Tanggalnya saya lupa. Harinya Rabu tahun delapan empat. Pelajaran Bahasa Indonesia tiga jam berturut-turut. Dari jam pertama sampai jam ketiga. Dia menerangkan sambil mencatat hal-hal penting, yang perlu dicatat di papan tulis. Setelah beberapa kian lamanya, papan tulis penuh dengan tulisan-tulisannya. Disuruhnya anak-anak yang harian (piket) untuk menghapus. Berhubung di klasku tak ada penghapus, anak-anak yang harian tak mau menghapusnya. Dibiarkannya aku dan teman-temanku beberapa jenak. Sambil sekali-sekali dihirupnya ingus yang ada dihidungnya. Persis seperti orang sakit pilek itu lho! Tapi aku lihat dia tidak pilek itu !? Setelah dibiarkan anak-anak tak ada reaksi apa-apa, dia mengambil sapu. Dihapusnya sapu, ... eh koq sapu, ... papan tulis ! Dihapusnya papan tulis yang penuh dengan tulisan  itu dengan sapu. Aku dan teman-temanku tertegun bercampur geli menyaksikan kejadian itu. Sampai kini pun bila mengingat hal itu hatiku jadi geli. Hyy ... geli. Entah sudah berapa banyak anak dan orang yang aku kasih itu cerita. Mungkin kamu juga pernah aku kasih cerita itu. (Mei delapan lima hari ke-dua)

Bp. Sarwadi
Dia Guru PMP di klas satu mengajar aku, dan Guru Sejarah mengajar aku di klas dua masuk siang. Kisahku (kisah sialku) dengan dia sebagai berikut. Suatu hari waktu aku klas satu dia menyuruh anak-anak klas satu ha, untuk mengerjakan soal-soal PMP di buku pekerjaan PMP masing-masing dan kemudian dikumpulkan. Hari berikutnya waktu pelajaran PMP yakni jam terakhir, setelah terdengar bel pulang berbunyi dia menyuruh seseorang anak tuk membagikan buku pekerjaan PMP. Ramailah suasana. Dia, Sarwadi waktu itu tlah keluar klas. Teman-teman berebutan mengambil bukunya masing-masing. Ada yang melempar-lempar buku temannya ke atas. Aku yang nakal ikut-ikutan mereka. Hari itu aku memang sial ! Sial sekali ! Waktu aku melempar-lempar buku itu, tiba-tiba tiga tempelengan mendarat di kepalaku. Itulah kisah sial ku yang sebenarnya sudah tak mau dan ingin aku mengingatnya. (Mei delapan lima hari ke-lima)

Bu Sri Hadijati
Mengajar aku Matematika waktu aku klas dua masuk pagi. Aku menjulukinya "Tante Cerewet", karena saking cerewetnya dia. LAin dengan Pak Eko, Buku Catatan Matematika akan penuh dengan hanya beberapa hari saja. Maka pada waktu diajar olehnya setengah tahun lamanya buku catatan masih kosong, bersih tak ada catatan. Soalnya dia tidak pernah memberi catatan pada kami. Aku ada kisah tentang dia dengan aku. Tanggal dan harinya aku sudah tak ingat alias lupa, delapan empat tahunnya. Pelajaran Matematika, tengah asyiknya mendengar ocehannya terdengar pintu klas diketuk seseorang. Ternyata panggilan buat Kasno ke kantor. Dia lalu pamit pada Bu Sri untuk ke kantor. Beberapa menit kemudian dia kembali ke klas dan mengatakan pada Bu Sri bahwa ia mesti pulang karena sesuatu sebab. Katanya sih, mau ngurus surat-surat. Entah surat apa aku tak tahu juga tak ingin tahu. Ada seorang temanku yang menanyakan sebab Kasno pulang. Bu Sri lalu cerita, " Kasno tadi pulang karena mengurus surat-surat permintaan keringanan dalam membayar SPP. Dia itu kan anak orang nggak punya, anak-anak". Aku yang bandel dan nakal interupsi dan bertanya, "Tidak punya apa Bu ?" Seisi klas tertawa mendengar pertanyaanku itu. "Tidak punya telinga !", jawab Bu Sri sambil menyentil telingaku disusul tawa seisi klasku (Mei delapan lima hari ke-tiga)

Bp. Sutejo DS
Dia mengajar aku BHS Inggris di klas dua, pagi dan siang, dan menjadi Wali Klas ku pada waktu aku klas dua masuk pagi. Guru ini lain dari yang lain. Aku dan teman-temanku mengatakan dia seorang banci. Orangnya atau ujudnya laki-laki tapi sifatnya bagai orang perempuan. Namun di balik itu semua dia adalah seorang Guru yang sabar dan bijaksana. Ada kisah tentang dia dan temanku Yunus Widodo. Hari dan tanggalnya aku lupa. Tahun delapan empat. Waktu itu aku duduk di klas dua masuk siang. Suatu hari waktu pelajaran Bahasa Inggris (kalau tidak hari Senin ya Selasa) anak-anak disuruh mengerjakan Home Work yang diberikannya beberapa hari yang lalu di papan tulis. Tibalah giliran temanku yang bernama Yunus Widodo mengerjakan di papan tulis. Aku betul-betul tidak menghina lho ini ! Waktu itu Yunus berpakaian sangat tidak rapi sekali (nglombrot:jawa) Saking nglombrotnya, sampai-sampai celana dalamnya (nuwun sewu) kelihatan dari luar. Pak Tejo yang mengetahui hal itu berkata tersenyum sambil menyentuhkan tangannya pada (nuwun sewu) celana dalamnya Yunus. "Mangkak !" (terj:kumal, kotor, lecek) Seisi klas yang terdiri dari ka-el empat puluh delapan anak itu tertawa terpingkal-pingkal. (Mei delapan lima hari ke-lima)

Bp. Eko Maryanto
Guru Matematika ku di klas satu dan klas dua waktu masuk siang. Dia seorang Guru yang kereng, (kereng itu bahasa indonesianya apa sih!?), (terj:kereng=galak) berwajah ngantuk, rokok-is, suka gambyong dan lain-lain yang sifatnya jelek. Aku ada kisah dengan dia, di mana dalam kisah ini aku jadi korban kekerengannya. Tanggal 18 Oktober 1983 hari Selasa jam 13.15 wib. Pelajaran pertama dan kedua Matematika Aritmetika tentang Peta dan Gambar Rencana. Setelah menerangkan dia menyuruh anak-anak mengerjakan soal-soal dalam buku paket Matematika di papan tulis secara berurutan. Urutannya dari anak-anak yang duduk di bangku paling muka sebelah kiri, ke samping kanan. Gaduhlah suasana. Anak-anak yang ada di samping kanan mulai menghitung. "Saya nanti kebagian mengerjakan soal nomor berapa ?", pikir mereka masing-masing. Aku sendiri, yang duduk di depan Guru persis, waktu itu mendapat bagian mengerjakan soal nomor lima latihan lima. Waktu mengerjakan di muka klas, aku tak membawa buku paket Matematika seperti halnya dengan teman-teman yang lain. Melainkan aku membawa ... penyelesaian atau kunci. Setelah pekerjaan ku diperiksanya, ternyata ada sedikit kesalahan. Sambil marah-marah dia berkata, "Ora ... nomer lima iki njaluk dikaplok piye ?" (Nggak, nomer lima ini minta ditempeleng apa ?) Aku lalu maju tuk membenarkan jawabanku yang salah itu. (Mei delapan lima hari ke-tiga)

Bu Budi Suharti
Mengajar aku Bahasa Inggris di klas satu. Setiap kali menerangkan dia selalu menggunakan kata-kata "Ya Tidak  ??" dengan logat dan gaya seperti orang inggris. Lain itu dia juga memakai Bahasa Inggris dalam mengajar kami. Seperti ... Please come here, Okay together dan lain-lain. Aku kira tak ada kisah yang perlu dicatat. Hanya beberapa kali tiap aku jumpa dengannya di waktu aku duduk di klas tiga ini, dia sering bertanya "Kowe yo isik pinter kayok ndisik Nang ?" ("Kamu masih pandai seperti dulu Nang ?") Aku cuma hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan darinya itu. Eh ada, ... ada kisah yang perlu dicatat tentang dia. Waktu dia menerangkan ada kata-kata sukar yang tidak dimengerti oleh kami semua. Kata itu adalah "Picture". Kata itu kami tanyakan apa arti dan bagaimana bunyinya (membacanya). Dia lalu menjelaskan, artinya gambar sedang membacanya pikce. Katanya selanjutnya, "Kalau membaca jangan dibalik ("k" nya ditaruh di belakang) lho, bahaya nanti". (Mei delapan lima hari ke-lima)

Bp. Hari Sukamto
Mengajar Sejarah aku di klas satu dan mengajar Bahasa Daerah di klas dua masuk siang. Waktu mengajar Sejarah dia sering menggunakan kata-kata "Sudah barang tentu". Kata itu sering sekali diucapkan atau digunakan dalam menerangkan pelajaran Sejarah. Sering sekali ! Aku pernah menghitung pemakaian kata "sudah barang tentu" olehnya. Dua jam pelajaran kata-kata itu keluar dari mulutnya empat puluh tujuh kali. Tidak ada kisah antara aku dan dia selama aku diajar olehnya. Namun ada kisah antara dia dan temanku yang membuat aku tertawa terpingkal-pingkal. Tanggalnya saya lupa. Hari Senin tahun delapan empat. Pelajaran hari Senin jam pertama kedua adalah Bahasa Daerah tentang menulis huruf Jawa. Dia menyuruh anak-anak one by one menulis huruf Jawa di papan tulis. Ada pun kata-kata yang disuruh menyalin dalam huruf Jawa, terdapat dalam buku Bahasa Jawa. Ada yang menulis, cincing-cincing, nyancang kucing dan lain-lain yang kedengarannya lucu-lucu. Sebuah tulisan di papan tulis yang entah dikerjakan siapa (Joko Santoso) yang sebenarnya sudah betul dikatakannya salah. Aku katakan padanya bahwa pekerjaan tersebut sudah betul. Dia tetap bersikeras mengatakan bahwa pekerjaan itu salah. Dia lalu mengoreksi dan katanya, " Oh iya ding sudah betul". Mendengar itu tak dapatlah aku menahan tawaku. Tawa geli. (Mei delapan lima hari ke-tiga)

Bp. Suhari
Guru Biologi di klas tiga dan mengajar aku pada waktu aku klas tiga. Dia adalah seorang Guru yang suka menempeleng muridnya. Temanku Farid ditempelengnya (kl sebulan di klas tiga setelah kenaikan klas) karena dia diserahi tugas memberikan lembaran kerja Biologi pada anak-anak (teman-teman) yang tidak masuk belum diserahkan juga. Aku pernah ditempelengnya (kl bulan April 85) waktu upacara hari Senin. Upacara hari Senin yang bertugas adalah klas tiga ge. Aku berdiri dekat/bersebelahan dengan Agus Sudarto. Dia bertanya padaku, yang manakah anak yang bernama Hermin, < Herminthuk, teman-temanku biasa memanggilnya, terutama waktu klasku koreksi ulangannya klas tiga ge. Begitu Guru memanggil/berapa nilai Hermin, anak-anak putra klasku serempak menyahut dan berkata "thuk" > di antara anak-anak klas tiga ge yang tugas upacara. Lalu aku mencari-2 anak tiga ge yang bernama Hermin, tiga tempelengan mendarat di pipi ku. Yah, ... memang hari itu aku betul-betul sial. Ingin rasanya menghajar temanku (Agus Sudarto). Namun mengingat akibatnya yang bisa-2 membawa kematiannya, aku urungkan niatku tuk menghajar Agus Sudarto. Bagi anak-anak yang pada waktu ulangan, mengganti atau pun merubahnya (jawaban) dia akan berkata, "Kamu mau dikatakan anak pelacur ? Kalau tidak mau, jangan merubah jawaban yang sudah kamu tulis !"
Aku ada kisah tentang dia. Kejadiannya seminggu setelah aku ditempeleng. Hari Senin pelajaran pertama dan kedua setelah pertemuan adalah Biologi. Hari itu (maksudnya bukan hari, Suhari lho) dia menerangkan tentang makanan. Dia cerita ngalor ngidul (terj: ngalor=ke utara, ngidul=ke selatan) sampai dia berkata, "Kalau kamu makan di Accord (nama rumah makan terkenal) sepuluh ribu kamu belum kenyang. kalau di warungnya Mbak Warti sepuluh ribu yo sak, ...." (terj: yo sak=ya sampai) Belum selesai dia bicara, aku menyahut, "Sak bakule !" (terj:plus penjualnya). Seisi klas tertawa mendengar hal itu. Kata Pak Suhari selanjutnya, ' Huss, .. sak kranjange, koq sak bakule !" Untung dech, ... aku tak ditempelengnya.
Pada waktu perpisahan tanggal sembilan Mei sembilan belas delapan lima kemaren, setelah acara usai anak-anak klas tiga dilarang pulang dulu karena disuruh berpamitan dan bersalam-salaman dengan bapak ibu Guru. Waktu aku bersalaman dengan Pak Suhari aku menasehatinya demikian, " Pak Hari kalau ngajar jangan suka nempeleng muridnya ya ?" Dia lalu menjawab "Ya, ... ya ..". Aku sendiri waktu itu juga heran. Koq berani-beraninya aku ini menasehati orang yang lebih tua. Guruku lagi. Bukan saja Pak Suhari, tapi juga Bu Sumini yang aku nasehati. Waktu aku bersalaman dengannya aku berkata, "Bu Sumini kalau ngajar yang sabar ya ?" "Ya ya ..!" jawabnya. Demikianlah kisah Pak Suhari yang membawa-bawa serta Bu Sumini. (Mei delapan lima hari sembilan & sepuluh)

Bu Suwarti
Dia adalah Guru Bahasa Inggris dan mengajar aku di klas tiga. tak banyak aku tahu tentang Guru ini. Yang jelas dia adalah seorang Guru yang sabar. Aku ada kisah tentang dia aku dan kedua belas temanku : Agus Priyanto, Angkat, Agung, Yunus, Suryanto, Sriyono, Agus Dwiyanto, Gatot Hendro, Joko Santoso, Priyanto, Arif Zubaidy dan Trikuswantoro.
Tanggal lima januari delapan lima jam sepuluh lima belas (plus) Pada waktu pelajaran, eh ... habis pelajaran Inggris (baru satu jam) istirahat. Yah, ... waktu istirahat setelah pelajaran bahasa inggris aku berjalan (sendiri) ke alun-alun bermaksud mau nonton sepak bola dalam rangka POR, antara kesebelasan SMP II lawan SMP Ngrambe. Sesampainya di alun-alun kedua belas temanku tersebut di atas tlah berada pula di situ. Lebih kurang sepuluh menit aku nonton, teman-teman mengajak ke klas kembali karena dirasa kami sudah lama berada di situ dan istirahat hanya berwaktu kurang lebih lima belas menit. Kemudian anak-anak yang lain selain aku, Angkat, Agus dan Priyanto kembali ke klas. Setelah kira-kira anak yang lain sudah sampai di klas aku dan kedua temanku bermaksud pula kembali, namun baru kami sampai di lapangan tenis terlihat anak-anak yang tadi kembali ke klas, berlarian hendak nonton lagi, alasannya mereka tak diperbolehkan masuk ke klas, ... Kami dan mereka pun akhirnya menonton sepak bola lagi. Usai pertandingan kami terpaksa masih menanti sampai istirahat soalnya mau masuk klas tak diperbolehkan. baru setelah bel tanda istirahat berbunyi kami ke klas. Setiba di klas anak-anak yang nonton sepak bola oleh Bu Suwarti disuruh ke BP. Akhir cerita ketiga belas anak nakal nan bandel itu disuruh membuat surat pernyataan dengan harus ditanda tangani yang berkepentingan, Wali Murid, dan Wali Klas. Demikian ini surat pernyataan yang aku buat yang copy nya masih aku simpan (For the memorys)
Tanggal delapan Januari waktu aku minta tanda tangan wali klas ku Bu Hastuti, dia bertanya, "Nyapo iki ?" "Minta tanda tangan untuk surat pernyataan", jawabku dan teman-temanku. "Ngono kuwi salah apa bener ?" Teman-temanku menjawab, 'Salah Buu .." lalu jawabku setelah teman-temanku "Katanya salah Bu". Mendengar jawabanku dia berkata, "Kalau begitu berarti kamu belum sadar, sini telinganya !" Aku pun lalu dicentilnya di depan Guru-guru. Malu sekali aku waktu itu. Aku tidak lekas-lekas diberi tanda tangan meski aku paling awal mintanya. Tiap kali aku minta, dia berkata, "Nanti dulu, kamu belum sadar koq. Sapa sing wis sadar gawa rene ?!" Semua temanku setelah diberi tanda tangan dicentil kedua telinganya. Tadi aku dicentil cuma satu telinga. Akhirnya dikasih juga aku tanda tangan. Sebelum memberikan tanda tangannya dia bertanya, "Kamu sudah sadar belum ?" "Sudah !" jawabku. Mungkin entah lupa atau bagaimana aku tak dicentil setelah dikasih tanda tangan sebagaimana layaknya temanku yang lain (Mei delapan lima hari dua tiga)




Kamis, 14 Februari 2013

Episode SMP

0 komentar
Rabu 12 Oktober 1983, 19.30 wib
Joko Tri Sula Utama datang ke rumah untuk minta bocoran Bahasa Inggris. Yang mengajar Bahasa Inggris Bapak Sutejo. Catatan Harian ini mulai dibuat. Rita minta diajari bagaimana cara mengalikan.

Kamis 13 Oktober 1983, 12.40 wib
Bukunya anak II D ketinggalan dan saya corek-2 dengan Wawan (bunyinya "PIKOEN) Buku Agama saya dicorek Wawan, bunyinya "Allohuma kun jali jali asih ... si anu ... teka ..." Yang mengajar Agama Bu Mubasirotun.

Kamis 13 Oktober 1983, 17.00 wib
Pulang sekolah numpang truck milik Pabrik Gula Soedhono, kehujanan, di dekat jembatan Klitik trucknya berhenti. Kemudian  menyetop truck yang digunakan untuk ngangkut pasir. Sampai di pertigaan Geneng, saya beli baksonya Kliwon, tapi tidak pakai mi karena waktu itu saya sedang tirakat ngrowot.

Kamis 13 Oktober 1983, 22.15 wib
Pulang nonton film di lapangan (bioskop gratis) yang berjudul "Benyamin Jatuh Cinta"
Sesampai di rumah nonton film di TV "The High Caparral"

Jum'at 14 Oktober 1983, 10.00 wib
Habis olah raga istirahat dengan : Widyatmoko Kurniawan, M. Latif Usman, Agus Priyanto, Agus Sudarto di Musholla. Kebetulan Pak Manu (Guru Ketrampilan) juga ada di Musholla. Karena saya dan teman-2 ribut, maka Pak Manu marah

Jum'at 14 Oktober 1983,12.40 wib
Ada angin ribut (puting beliung) di lapangan tenis depan sekolahan. Waktu itu saya dan Wawan sedang membeli es.

Sabtu 15 Oktober 1983, 14.00 wib
Pelajaran Kesehatan Bp. Suharyo tidak hadir maka oleh Bu Sumini disuruh membersihkan kelas

Sabtu 15 Oktober 1983, 16.10 wib
Waktu Upacara Penurunan Bendera, tidak ikut dan pulang bersama Widyatmoko (pada waktu istirahat tasnya ditaruh di belakang Gedung Eka Kapti, dan waktu Pelajaran Ketrampilan oleh Bp. Harsono pinjam ballpoin dan bukunya Agus Sudarto). Dalam perjalanan pulang, saya diberi uang Widyatmoko Rp. 50.

Sabtu 15 Oktober 1983,16.30 wib
Pulang sekolah dengan naik colt nya Pardi Leleng bersama Bagong (Suroso)

Sabtu 15 Oktober 1983, 18.25 wib
Pulang dari Mbalong, Ayah dan Ibu beli sate (yang jual Nyimik) sesampai di rumah kami sekeluarga makan sate. Masing-2 anak mendapat 4 sate, Ayah dan Ibu hanya 3 sate.

Minggu 16 Oktober 1983, 11.35 wib
Bermain-2 dengan burung kutilang sampai ekornya putus. Waktu ini saya mempunyai beberapa burung antara lain : burung detcu 1, burung branjangan 3, burung kutilang 2, yang 1 pemberian dari Agus Sudarto (pada hari Senin 16 Agustus 1983, setelah kenaikan kelas saya dan Darto pergi ke rumah Darto di Ds. Jenggrik untuk mengambil burung kutilang)

Minggu 16 Oktober 1983, 21.00 wib
Karena tangan usil ada kabel listrik dipegang, maka kena stroom. Maksud saya mau mematikan hubungannya tetapi keliru dan kena stroom lagi. Untung tidak kebacut modar saya

Minggu 16 Oktober 1983, 21.55 wib
Ayah pergi ke Keras untuk menarik pajak pertunjukan (ludruk) dengan mengendarai sepeda motor Binter Joy

Senin 17 Oktober 1983, 11.20 wib
Berangkat sekolah naik truck bersama : Gatot Hendro, Setyo Margo Utomo, Suluh Gunawi, Endro, Anang Yeni Riswanto, Tanto, Singgih Subroto, dan diturunkan di Pasar Hewan kemudian kami dkk terpaksa jalan kaki. Tidak kuat jalan kaki tidak lewat jalan, tapi lewat kebon. Kemudian sampai di jalan saya dibonceng Tri Kuswantoro. Sesampai di sekolah saya dan Agus Sudarto dibelikan es oleh Widyatmoko.

Senin 17 Oktober 1983, 17.20 wib

Pulang sekolah minta boncengan Nuryanto, sebelumnya berebut dengan dengan Agus Sudarto. Sampai di stopan ada anak Kedung Glagah yang sudah naik Toyota Kijang,, tanpa dikomando saya bersama dg Priyanto, Gatot dan Anang YR langsung ikut naik.

Selasa 18 Oktober 1983, 13.15 wib
Mengerjakan Aritmetika latihan 5 no 5. Karena melihat kunci (penyelesaian) milik Widyatmoko maka keliru & dimarahi Eko Maryanto (hampir ditempeleng) Katanya dg marah, "Ora, nomer lima iki njaluk di kaplok piye ?"

Selasa 18 Oktober 1983, 17.20
Pulang sekolah dibonceng Yusuf Wibisono sampai di stopan mampir ke pondokan Lik Sakib karena disuruh Ibuk menyampaikan surat. Kemudian naik truck derek dg seri nomer L 5641 AX

Kamis, 20 Oktober 1983, 15.10 wib
Kelompok V dalam praktikum Biologi dikeluarkan karena tidak dapat menjawab pertanyaan "Siapakah penemu golongan darah". Kelompok V terdiri Sunarno, Agus DPH, Eko Yudo, Nuryanto, Joko Prihantoro Yudoningtyas, Bibit Lestari, Harni dan Erni Kusrini. (yang mengajar Biologi Bp. M. Munif)

Jum'at, 21 Oktober 1983, 11.35 wib
Bersembahyang Jum'at di masjid Kabupaten bersama Aluh, SMO, Latif, Sodiq.

Jum'at 21 Oktober 1983, 17.05 wib
Eko Yudo N dimarahi Eko Maryanto, karena tidak dapat mengerjakan Matematika latihan 8A no 1. (ia melihat penyelesaian/kunci & kuncinya salah)

Sabtu, 22 Oktober 1983, 16.00 wib
Tidak ikut upacara penurunan bendera. Waktu pelajaran Elektro setelah selesai mengerjakan tentang tahanan (resistor) pulang bers Yusuf W, Yunus Widodo, Gatot HM, Agus Sudarto, tapi agus kembali ke sekolah. Lalu Priyanto menyusul. Jadi kami pulang berlima. Pulang sekolah naik truck Fuso PT GAYA GUNA telp 68 Pare Kediri dg seri nomer AG 1526 PK

Senin, 24 Oktober 1983, 15.25 wib
Eko Maryanto marah karena anak-anak ditanya apakah persamaan & pertidaksamaan itu, anak-2 tidak menjawab. Hanya Farid Budi Susilo yg menjawab persamaan tapi tidak menjawab pertidaksamaan. (Waktu itu hujan turun dg derasnya, mulai jam 12.20 s/d 17.20 waktu pulang sekolah)

Senin, 24 Oktober 1983, 17.25 wib
Pulang sekolah bersama Yusuf. Lalu minta bonceng Nina Siti Musa'adah yang sedang naik sepeda dg Retno Wijayanti, sedang Yusuf berjalan kaki sendiri. Nina berkata "Nang mondok nggon aku piye ?"

Selasa 25 Oktober 1983, 15.35 wib
Waktu pelajaran Bahasa Inggris, Kasno disuruh Pak Sutejo mencatat tentang kata kerja bentuk pertama, kedua dan ketiga. tetapi bukunya yang akan digunakan untuk mencontoh disembunyikan Yunus W. Lalu Yunus menulis :
I Brat II Brut III Brut = Ngentut

Selasa 25 Oktober 1983, 15.47 wib
Saya disuruh Pak Sutejo mencatatkan Satuan Pelajaran bhs Inggris unit 5 tentang Future Tense. Kemudian saya menyuruh Widyatmoko mendikte sedang saya yg menulis. Sebelum Pak Tejo datang anak-2 sangat ramai. Saya menulis di papan tulis nama ayah Agung TP dan Yunus, juga ayah Wawan dalam dg huruf Jawa : Suwandi, Sukardi

Rabu 26 Oktober 1983, 16.15 wib
Ketrampilan dekorasi dbp Bu Sumini merangkai buah. Kelompok saya al : Siau Han, Gatot Hendro, Agus Sudarto, Hari Wibowo. Merangkai buah dibentuk menjadi seekor ayam. Karena nanas yg dibawa Han masih sisa 1, maka dibagi-2 kan. Nanas 2 dibagi anak 4. Sedangkan Han tdk ikut makan. Waktu itu saya bawa wortel dan jarum (dom bundel)

BERSAMBUNG ==>




Catatan ini saya buat, ...

3 komentar
Geneng (Ngawi) 4 Nopember 1983,  19.00 wib

Catatan ini saya buat untuk kenang
kenangan kami apabila nanti saya sudah
besar, dan sekaligus juga untuk mengetahui/mengingat
kehidupan kami di waktu kecil. Waktu ini saya masih
dalam keadaan belum memenuhi syarat untuk kehidupan yang layak. 
Rumah tidak punya, tanah apalagi. Tetapi kami memiliki sebuah televisi, radio dan sepeda mini.
Punya sepeda motor Suzuki FR 80 DX seri nomer AE 7103 D saja digadaikan kepada Bu Sambudi (Maospati). Akibatnya sepeda motor tersebut hilang karena Ayah tak dapat mengambilnya.
Tapi kami tak pernah putus asa. Memang kehidupan dunia selalu berputar. Kadang-2 di bawah, kadang-2 di atas. Dalam waktu ini saya masih dalam keadaan di bawah. Mungkin suatu saat nanti keadaan saya berganti di atas. Saya berharap supaya besar nanti saya dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa, keluarga dan negara.
Tak lupa saya juga berharap agar mendapat istri yang cantik setia dan cinta kepada suami. Ya,.. semoga Tuhan mengabulkan permintaan hamba-Nya. Oh Tuhan kabulkanlah permohonan kami.
Aamiin.

Rabu, 13 Februari 2013

Prolog : Sebuah Pengantar

1 komentar
Kegemaran unik ku waktu masih usia SMP.
Aku membeli sebuah buku besar, biasa untuk Jurnal.
Aku beri judul kolom, No, Hari / Tanggal, dan Kejadian.
Aku tulis peristiwa yang kualami di buku itu
Bahkan dari hal kecil dan remeh temeh sekalipun.
Waktu itu aku tak mengenal binder, atau diary.
Setiap sore, menjelang aku belajar dan mempersiapkan buku,
aku tuliskan apa yang kualami hari itu.
Tak jarang, agar tidak lupa, segera aku catat, 
sesaat setelah suatu peristiwa, .. aku alami.
Ketika telah memiliki 2 orang anak, kini,
dan aku bacakan, beberapa lembaran halaman buku itu,
di hadapan mereka,
Tak dapat mereka menahan tawa,
manakala peristiwa lucu dan konyol,
yang aku bacakan.
Semoga, kegemaran seperti ini,
juga mereka memiliki.
Gemar membaca yang, membawa pada,
kegemaran menulis. 
Ya, ... menulis apa saja.
Apa yang kamu lihat
Apa yang kamu dengar
Apa yang kamu rasakan
Apa yang kamu  ingin tulis
Apa yang kamu alami
Apa yang kamu bayangkan
Apa yang kamu impikan
Apa ... pun