Halaman

Senin, 25 Februari 2013

Mengapa Bu Hastuti ?

Seusai upacara hari Senin itu, salah satu siswa kelas III H, yang sejak beberapa upacara sebelumnya begitu antusias memperhatikan jalannya upacara bendera, terutama di deret barisan Guru yang ada di sebelah depan berhadapan dengan barisan siswa, seorang siswa yang bernama Anang Dwijo Suryanto, yang kebetulan juga siswa perwalian Bu Hastuti, menghampiri beliau dan mengajukan satu permohonan. "Maaf Bu Hastuti, bolehkah kiranya saya bertanya beberapa hal kepada Ibu, jika Ibu berkenan dan ada waktu luang ?" "Oh, .. kamu Nang .. ada apa ini ya .. ? Boleh-boleh saja. Sebaiknya nanti saat istirahat saja ya ? Di Ruang BK, bagaimana ?" Jawab dan sekaligus tanya beliau. Sang murid pun mengangguk sambil tersenyum.
Saat istirahat, saat biasanya Anang beli jajan atau dibelikan jajan tempe Rp. 100 dapat 5 dan dimakan rame-2, oleh Widyatmoko Kurniawan, yang sekarang menjadi seorang Dokter Bedah di Lampung, ia bergegas seorang diri pergi ke Ruang BK. Menimbulkan tanda tanya beberapa temannya yang lain.
Di Ruang BK, Bu Hastuti, sang Wali Kelas sudah menunggu dengan senyum ramahnya. Tanpa menutupi rasa ingin tahunya beliau langsung bertanya.
"Ada apa to Nang ? Sepertinya koq serius sekali ?"
"Ehm ... begini Bu, .. gimana ya, .. saya agak malu ini menanyakan pada Ibu."
"Sudahlah, nggak apa-apa koq, .. kalau ini menyangkut hal-hal pribadi atau rahasia, Insya Allah Ibu berusaha untuk merahasiakannya, .. Jadi, .. kamu ndak usah khawatir. Ayo mau tanya apa ?"
"Begini Bu Hastuti, setiap kali upacara bendera, saya selalu memperhatikan deretan Guru. Beberapa Guru, baik Bapak atau Ibu Guru, saya amati pasti ada yang ngobrol dengan Guru di sebelahnya. Ada yang guyon jegigisan. Ada yang begitu pembawa acara mulai membaca susunan acara, begitu pula mereka mulai ngobrol hingga upacara selesai. Atau pada saat sikap istirahat, ada yang sedakep, dsb. Bahkan Bu yang lebih membuat saya prihatin, pada saat mengheningkan cipta atau pas doa, koq ya masih sempat-sempatnya mereka berbisik-bisik."
"Lho Nang, kalau kamu tahu persis apa yang Bapak Ibu Guru lakukan di barisan depan, berarti kamu nggak mengikuti upacara dengan tertib dan baik ya ?"
"Iya Bu, .. terdorong rasa ingin tahu saya, waktu mengheningkan cipta atau berdoa, saya tidak menunduk dan tetap mengawasi mereka Bu."
"Lha terus apa yang ingin kamu tanyakan pada Ibu, Nang .. ?"
"Begini Bu, selain saya mengamati beliau-beliau, saya paling jeli mengamati Bu Hastuti."
"Ah, kamu ini Nang, .. ada-ada saja .. Terus .. ?"
"Sejak awal pengamatan saya Bu, .. saya tidak pernah melihat Bu Hastuti berbicara sesaat pun pada Bapak Ibu Guru yang ada di sebelah Bu Hastuti. Ibu begitu khitmad dan terkesan sangat sombong, ketika beberapa kali ada Guru di sebelah Ibu bertanya pada Ibu, dan Ibu hanya sedikit menoleh saja, dengan senyum atau sedikit anggukan saja. Sikap Ibu juga selalu seperti sikap yang dikomandokan pemimpin upacara."
"Terus, .. kenapa Nang ?"
"Justeru saya yang akan menanyakan pertanyaan tersebut pada Ibu. Kenapa Bu ? Dan bagaimana Ibu bisa bersikap seperti itu ?"
"Ooh .. itu to Nang ... begini, .. Setiap upacara bendera, Pembina upacara kan pasti menekankan kedisiplinan dan ketertiban. Ya to ? Karena salah satu tujuan dari upacara bendera sendiri adalah membentuk jiwa disiplin & tertib. Sikap kita pada saat upacara adalah cermin disiplin kita, yang akan teraplikasikan dalam kehidupan kita sehari-2. Ibu sangat menjaga kehormatan Bapak Ibu Guru Pembina yang selalu berupaya mendisiplinkan para siswanya. Bahkan ketika ada siswa yang tidak tertib seragamnya, bersikap tidak sesuai dengan komando pemimpin upacara, atau ada yang bicara sendiri, pasti mereka mendapat sanksi bukan ?"
"Ya Bu, .. saya juga pernah ditempeleng Pak Suhari, waktu saya menjawab pertanyaan Yunus saat upacara." Sela Anang menyela penjelasan Bu Hastuti.
"Nah itulah ... pembinaan kedisiplinan lewat upacara ini sebenarnya bukan melulu untuk siswa Nang. Tapi juga Guru-guru. Karena kami pun juga Peserta Upacara. Iya kan ?" Kalau kamu harus ditempeleng karena bicara pada saat upacara berlangsung, .. sementara kami yang di barisan depan justeru bicara sendiri bahkan sampai jegigisan menurutmu tadi, .. itu artinya apa ? Artinya kami tidak menghargai Bapak Suhari yang telah menempeleng kamu, atau pembina upacara yang selalu mengajak disiplin, termasuk Ibu yang pada saat menjadi Pembina Upacara juga mengajak & mengharuskan siswanya untuk disiplin. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa di akherat ada seorang yang berwajah keledai dengan usus terburai berjalan berputar-2. Lalu penghuni neraka bertanya, bukankah engkau si fulan yang selalu mengajak kami pada kebaikan ? Mengapa kamu bisa seperti ini ? Jawab yang ditanya, iya benar, saya sering mengajak kebaikan, tapi saya tidak pernah melaksanakannya. Lagian Nang, ... kami ini Guru. Yang katanya digugu dan ditiru, maka kami harus memberikan contoh & teladan bagi murid-2nya. Tidak boleh hanya pandai bicara, menuntut siswa tanpa memberikan keteladanan. Karena itu akan sia-sia. Ingat Nang, .. sebuah contoh atau keteladanan, itu jauh lebih mengena, berarti dan bermakna dari pada ribuan kata yang diucap hingga berbuih berbusa .. begitu."
"Ooo jadi begitu ya Bu Hastuti, ... Jadi Ibu, ... ", belum selesai Anang berkata terdengar bel tanda istirahat usai. "Maaf Bu, waktu istirahat sudah habis, ... mungkin wawancara saya cukup sampai di sini dulu. Terima kasih banyak atas waktu dan penjelasan ibu. Semoga saya kelak mampu menerapkan prinsip Bu Hastuti ini di masa mendatang. Aamiin".
"Iya Nang ... doa Ibu menyertaimu ... "

2 komentar:

  1. ora ngono bocah sing dicritake kuwi kok yo kadang2 metu disipline barang to om... wkwkwk

    BalasHapus
  2. Asline bocahe memang disiplin Mas Topek, ... sok sok ... he he he

    BalasHapus