Catatan tentang beberapa Guru yang pernah mengajar aku :
Bu Hastuti
Guru Bahasa Indonesia dan Wali Kelasku waktu aku duduk di bangku kelas III. Dia adalah Guru tergenit yang pernah aku kenal. Kegenitan selalu mewarnai dirinya pada waktu memberikan pelajaran kepada kami. Aku sering dicentil telingaku, karena aku tak membawa buku paket Bahasa Indonesia. Adapun sebabnya aku tak membawa buku itu adalah karena bukuku sakit lepra. Aku kira tindakanku untuk tidak membawa buku yang lepra itu cukup dan bahkan sangat bijaksana. Tapi rupanya tindakanku itu ditentangnya. Ada sebuah kisah tentang dia dan aku yang membuat seisi kelas terbawa.
Tanggal 9 Januari, hari Rabu jam 11.37. Delapan lima tahunnya. Pelajaran terakhir Bahasa Indonesia. Dia menerangkan tentang riwayat Angkatan Pujangga Baru. Beberapa teman di antaraku disuruhnya maju ke muka untuk mengulang apa yang baru diterangkan. Dodik salah satu di antaranya, tak mau maju ketika disuruhnya. Tak ada tindakan apa-apa darinya terhadap Dodik sehubungan dengan hal ini. Dia pun lalu menyuruh aku, Anang Dwijo Suryanto, untuk maju ke muka menerangkan riwayat Angkatan Pujangga Baru yang diterangkannya barusan. Aku mengikuti jejak Dodik dengan tak mau maju ketika disuruh. Apa yang terjadi ? Lho koq tanya saya ! Eh iya saya lupa. Selanjutnya ia mengancam aku. Jika dihitung sampai tiga kali tak juga aku maju, dia akan keluar dari klasku dan tak mau mengajar. Bukan hanya itu saja. Dia juga mengancam akan men"skors" aku tak boleh ikut pelajaran Bahasa Indonesia, .....Seumur Hidup ! Tak dapatlah seisi klas menahan tawa mendengar hal itu. "Wah ... Guru ini rupanya sentimen dengan aku", pikirku. Anak-anak putri temanku yang takut akan ancaman itu, menyuruh aku untuk maju.
Itulah kisahku dengan dia; Bu Hastuti yang tak dapat kulupakan sepanjang hidupku. (Mei 1985 hari ke-dua)
Bu Sarikem
Guru ini sabar dan aku senang diajarnya. Dia mengajar aku Bahasa Indonesia, ketika aku duduk di kelas satu. Saking sabarnya dia menghadapi aku dan temanku yang nakal ini sampai-sampai dia pernah menangis. Menangis melihat kelakuan dan sikap kami waktu diajar dia. Kisahku dengan dia begini ceritanya :
Harinya saya lupa, waktu pelajaran Bahasa Indonesia dia masuk ke klasku dan langsung menanya anak-anak, "Hari ini ulangan anak-anak ?" "Tidak Bu !", jawab anak-anak serentak. Lalu aku nimbrung dan berkata padanya, "Belum diberitai koq Bu". "Ya, kalau diberitai kamu tidak mau. kalau diberitahu kamu mau". jawabnya. (Mei delapan lima hari ke-tiga)
Bpk. Maryanto
Wali Klasku waktu aku kelas satu. Mengajar Olah raga dan Kesehatan klas satu dan klas dua waktu masuk pagi. Dialah orang yang memilih aku menjadi wakil ketua kelas menggantikan wakil ketua klas yang pindah, di klas satu di luar sepengetahuan teman-temanku. Kisah yang perlu dicatat tentang dia adalah ketika aku duduk di klas dua masuk siang.
Tanggal 15 Nopember Hari Selasa jam 15.05 delapan empat Waktu pelajaran Bahasa Inggris ada pemeriksaan bed nama. Sebenarnya aku tlah memasang bed nama. Namun yang kupasang bukanlah bed namaku. Melainkan bed nama nama temanku Widyatmoko. Bagian huruf "Widy dan "ko" aku hapus hapus dengan spidol. Hingga tinggal hurufnya a, t, m, o saj, yang bila dibaca berbunyi (ini kalau membacanya dengan berbunyi, kalau dalam hati ... ya ... tidak berbunyi) "atmo". Bagi anak yang belum pasang bed mendapat cubitan di bagian mana bed dipasang. Namun bagi anak putri hal ini merupakan perkecualian. Soalnya, ... Soalnya bed nama memasangnya di bagian dada sebelah kanan. Persis di atasnya buah .... itu lho ... dada. Pahamkan ?
Tiba giliranku untuk diperiksa. Dibacanya bed nama yang aku pasang, "atmo". Meski sebenarnya aku tlah pasang bed namun aku dicubit jua. KArena yang kupasang bukan bed namaku. Sambil nyubit dia nyeloteh "Kowe arep nylolek neng klas loro ???" (Mei delapan lima hari ke-dua)
Bu Fransiska Widyastuti
Dia mengajar aku Fisika ketika aku duduk di kelas satu. Cara memberikan pelajaran pada kami mudah kami terima. Meski sebenarnya sukar pelajaran yang diberikannya. Aku tidak sombong lho. Kukira Guru ini ada-ada sama aku. Aku tak ge-er lho ! Itu aku ambil dari perlakuannya padaku yang tidak dilakukan pada teman-temanku. Inilah contoh perlakuannya padaku yang agak berkesan di hatiku. Dia menerangkan soal-soal Fisika. Setelah cara-caranya diberikan, dia lalu membuat contoh soal dan dikerjakannya. Mengerjakannya hanya separo. Dengan melemparkan kapur yang dibawanya padaku, dia berkata "Coba kamu lanjutkan Nang !" Hal ini boleh aku katakan agak sering kualami dan teman-temanku sekelas sendiri tak pernah mengalami hal serupa itu. Itulah kisahku dengan dia (Mei delapan lima hari ke-lima)
Bp. Warsito
Dia mengajar aku dan teman-temanku di kelas dua Bahasa Indonesia dan menjadi Wali Klasku di klas dua juga waktu masuk siang. Ada, .. aku juga ada kisah tentang Pak Warsito ini. Tanggalnya saya lupa. Harinya Rabu tahun delapan empat. Pelajaran Bahasa Indonesia tiga jam berturut-turut. Dari jam pertama sampai jam ketiga. Dia menerangkan sambil mencatat hal-hal penting, yang perlu dicatat di papan tulis. Setelah beberapa kian lamanya, papan tulis penuh dengan tulisan-tulisannya. Disuruhnya anak-anak yang harian (piket) untuk menghapus. Berhubung di klasku tak ada penghapus, anak-anak yang harian tak mau menghapusnya. Dibiarkannya aku dan teman-temanku beberapa jenak. Sambil sekali-sekali dihirupnya ingus yang ada dihidungnya. Persis seperti orang sakit pilek itu lho! Tapi aku lihat dia tidak pilek itu !? Setelah dibiarkan anak-anak tak ada reaksi apa-apa, dia mengambil sapu. Dihapusnya sapu, ... eh koq sapu, ... papan tulis ! Dihapusnya papan tulis yang penuh dengan tulisan itu dengan sapu. Aku dan teman-temanku tertegun bercampur geli menyaksikan kejadian itu. Sampai kini pun bila mengingat hal itu hatiku jadi geli. Hyy ... geli. Entah sudah berapa banyak anak dan orang yang aku kasih itu cerita. Mungkin kamu juga pernah aku kasih cerita itu. (Mei delapan lima hari ke-dua)
Bp. Sarwadi
Dia Guru PMP di klas satu mengajar aku, dan Guru Sejarah mengajar aku di klas dua masuk siang. Kisahku (kisah sialku) dengan dia sebagai berikut. Suatu hari waktu aku klas satu dia menyuruh anak-anak klas satu ha, untuk mengerjakan soal-soal PMP di buku pekerjaan PMP masing-masing dan kemudian dikumpulkan. Hari berikutnya waktu pelajaran PMP yakni jam terakhir, setelah terdengar bel pulang berbunyi dia menyuruh seseorang anak tuk membagikan buku pekerjaan PMP. Ramailah suasana. Dia, Sarwadi waktu itu tlah keluar klas. Teman-teman berebutan mengambil bukunya masing-masing. Ada yang melempar-lempar buku temannya ke atas. Aku yang nakal ikut-ikutan mereka. Hari itu aku memang sial ! Sial sekali ! Waktu aku melempar-lempar buku itu, tiba-tiba tiga tempelengan mendarat di kepalaku. Itulah kisah sial ku yang sebenarnya sudah tak mau dan ingin aku mengingatnya. (Mei delapan lima hari ke-lima)
Bu Sri Hadijati
Mengajar aku Matematika waktu aku klas dua masuk pagi. Aku menjulukinya "Tante Cerewet", karena saking cerewetnya dia. LAin dengan Pak Eko, Buku Catatan Matematika akan penuh dengan hanya beberapa hari saja. Maka pada waktu diajar olehnya setengah tahun lamanya buku catatan masih kosong, bersih tak ada catatan. Soalnya dia tidak pernah memberi catatan pada kami. Aku ada kisah tentang dia dengan aku. Tanggal dan harinya aku sudah tak ingat alias lupa, delapan empat tahunnya. Pelajaran Matematika, tengah asyiknya mendengar ocehannya terdengar pintu klas diketuk seseorang. Ternyata panggilan buat Kasno ke kantor. Dia lalu pamit pada Bu Sri untuk ke kantor. Beberapa menit kemudian dia kembali ke klas dan mengatakan pada Bu Sri bahwa ia mesti pulang karena sesuatu sebab. Katanya sih, mau ngurus surat-surat. Entah surat apa aku tak tahu juga tak ingin tahu. Ada seorang temanku yang menanyakan sebab Kasno pulang. Bu Sri lalu cerita, " Kasno tadi pulang karena mengurus surat-surat permintaan keringanan dalam membayar SPP. Dia itu kan anak orang nggak punya, anak-anak". Aku yang bandel dan nakal interupsi dan bertanya, "Tidak punya apa Bu ?" Seisi klas tertawa mendengar pertanyaanku itu. "Tidak punya telinga !", jawab Bu Sri sambil menyentil telingaku disusul tawa seisi klasku (Mei delapan lima hari ke-tiga)
Bp. Sutejo DS
Dia mengajar aku BHS Inggris di klas dua, pagi dan siang, dan menjadi Wali Klas ku pada waktu aku klas dua masuk pagi. Guru ini lain dari yang lain. Aku dan teman-temanku mengatakan dia seorang banci. Orangnya atau ujudnya laki-laki tapi sifatnya bagai orang perempuan. Namun di balik itu semua dia adalah seorang Guru yang sabar dan bijaksana. Ada kisah tentang dia dan temanku Yunus Widodo. Hari dan tanggalnya aku lupa. Tahun delapan empat. Waktu itu aku duduk di klas dua masuk siang. Suatu hari waktu pelajaran Bahasa Inggris (kalau tidak hari Senin ya Selasa) anak-anak disuruh mengerjakan Home Work yang diberikannya beberapa hari yang lalu di papan tulis. Tibalah giliran temanku yang bernama Yunus Widodo mengerjakan di papan tulis. Aku betul-betul tidak menghina lho ini ! Waktu itu Yunus berpakaian sangat tidak rapi sekali (nglombrot:jawa) Saking nglombrotnya, sampai-sampai celana dalamnya (nuwun sewu) kelihatan dari luar. Pak Tejo yang mengetahui hal itu berkata tersenyum sambil menyentuhkan tangannya pada (nuwun sewu) celana dalamnya Yunus. "Mangkak !" (terj:kumal, kotor, lecek) Seisi klas yang terdiri dari ka-el empat puluh delapan anak itu tertawa terpingkal-pingkal. (Mei delapan lima hari ke-lima)
Bp. Eko Maryanto
Guru Matematika ku di klas satu dan klas dua waktu masuk siang. Dia seorang Guru yang kereng, (kereng itu bahasa indonesianya apa sih!?), (terj:kereng=galak) berwajah ngantuk, rokok-is, suka gambyong dan lain-lain yang sifatnya jelek. Aku ada kisah dengan dia, di mana dalam kisah ini aku jadi korban kekerengannya. Tanggal 18 Oktober 1983 hari Selasa jam 13.15 wib. Pelajaran pertama dan kedua Matematika Aritmetika tentang Peta dan Gambar Rencana. Setelah menerangkan dia menyuruh anak-anak mengerjakan soal-soal dalam buku paket Matematika di papan tulis secara berurutan. Urutannya dari anak-anak yang duduk di bangku paling muka sebelah kiri, ke samping kanan. Gaduhlah suasana. Anak-anak yang ada di samping kanan mulai menghitung. "Saya nanti kebagian mengerjakan soal nomor berapa ?", pikir mereka masing-masing. Aku sendiri, yang duduk di depan Guru persis, waktu itu mendapat bagian mengerjakan soal nomor lima latihan lima. Waktu mengerjakan di muka klas, aku tak membawa buku paket Matematika seperti halnya dengan teman-teman yang lain. Melainkan aku membawa ... penyelesaian atau kunci. Setelah pekerjaan ku diperiksanya, ternyata ada sedikit kesalahan. Sambil marah-marah dia berkata, "Ora ... nomer lima iki njaluk dikaplok piye ?" (Nggak, nomer lima ini minta ditempeleng apa ?) Aku lalu maju tuk membenarkan jawabanku yang salah itu. (Mei delapan lima hari ke-tiga)
Bu Budi Suharti
Mengajar aku Bahasa Inggris di klas satu. Setiap kali menerangkan dia selalu menggunakan kata-kata "Ya Tidak ??" dengan logat dan gaya seperti orang inggris. Lain itu dia juga memakai Bahasa Inggris dalam mengajar kami. Seperti ... Please come here, Okay together dan lain-lain. Aku kira tak ada kisah yang perlu dicatat. Hanya beberapa kali tiap aku jumpa dengannya di waktu aku duduk di klas tiga ini, dia sering bertanya "Kowe yo isik pinter kayok ndisik Nang ?" ("Kamu masih pandai seperti dulu Nang ?") Aku cuma hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan darinya itu. Eh ada, ... ada kisah yang perlu dicatat tentang dia. Waktu dia menerangkan ada kata-kata sukar yang tidak dimengerti oleh kami semua. Kata itu adalah "Picture". Kata itu kami tanyakan apa arti dan bagaimana bunyinya (membacanya). Dia lalu menjelaskan, artinya gambar sedang membacanya pikce. Katanya selanjutnya, "Kalau membaca jangan dibalik ("k" nya ditaruh di belakang) lho, bahaya nanti". (Mei delapan lima hari ke-lima)
Bp. Hari Sukamto
Mengajar Sejarah aku di klas satu dan mengajar Bahasa Daerah di klas dua masuk siang. Waktu mengajar Sejarah dia sering menggunakan kata-kata "Sudah barang tentu". Kata itu sering sekali diucapkan atau digunakan dalam menerangkan pelajaran Sejarah. Sering sekali ! Aku pernah menghitung pemakaian kata "sudah barang tentu" olehnya. Dua jam pelajaran kata-kata itu keluar dari mulutnya empat puluh tujuh kali. Tidak ada kisah antara aku dan dia selama aku diajar olehnya. Namun ada kisah antara dia dan temanku yang membuat aku tertawa terpingkal-pingkal. Tanggalnya saya lupa. Hari Senin tahun delapan empat. Pelajaran hari Senin jam pertama kedua adalah Bahasa Daerah tentang menulis huruf Jawa. Dia menyuruh anak-anak one by one menulis huruf Jawa di papan tulis. Ada pun kata-kata yang disuruh menyalin dalam huruf Jawa, terdapat dalam buku Bahasa Jawa. Ada yang menulis, cincing-cincing, nyancang kucing dan lain-lain yang kedengarannya lucu-lucu. Sebuah tulisan di papan tulis yang entah dikerjakan siapa (Joko Santoso) yang sebenarnya sudah betul dikatakannya salah. Aku katakan padanya bahwa pekerjaan tersebut sudah betul. Dia tetap bersikeras mengatakan bahwa pekerjaan itu salah. Dia lalu mengoreksi dan katanya, " Oh iya ding sudah betul". Mendengar itu tak dapatlah aku menahan tawaku. Tawa geli. (Mei delapan lima hari ke-tiga)
Bp. Suhari
Guru Biologi di klas tiga dan mengajar aku pada waktu aku klas tiga. Dia adalah seorang Guru yang suka menempeleng muridnya. Temanku Farid ditempelengnya (kl sebulan di klas tiga setelah kenaikan klas) karena dia diserahi tugas memberikan lembaran kerja Biologi pada anak-anak (teman-teman) yang tidak masuk belum diserahkan juga. Aku pernah ditempelengnya (kl bulan April 85) waktu upacara hari Senin. Upacara hari Senin yang bertugas adalah klas tiga ge. Aku berdiri dekat/bersebelahan dengan Agus Sudarto. Dia bertanya padaku, yang manakah anak yang bernama Hermin, < Herminthuk, teman-temanku biasa memanggilnya, terutama waktu klasku koreksi ulangannya klas tiga ge. Begitu Guru memanggil/berapa nilai Hermin, anak-anak putra klasku serempak menyahut dan berkata "thuk" > di antara anak-anak klas tiga ge yang tugas upacara. Lalu aku mencari-2 anak tiga ge yang bernama Hermin, tiga tempelengan mendarat di pipi ku. Yah, ... memang hari itu aku betul-betul sial. Ingin rasanya menghajar temanku (Agus Sudarto). Namun mengingat akibatnya yang bisa-2 membawa kematiannya, aku urungkan niatku tuk menghajar Agus Sudarto. Bagi anak-anak yang pada waktu ulangan, mengganti atau pun merubahnya (jawaban) dia akan berkata, "Kamu mau dikatakan anak pelacur ? Kalau tidak mau, jangan merubah jawaban yang sudah kamu tulis !"
Aku ada kisah tentang dia. Kejadiannya seminggu setelah aku ditempeleng. Hari Senin pelajaran pertama dan kedua setelah pertemuan adalah Biologi. Hari itu (maksudnya bukan hari, Suhari lho) dia menerangkan tentang makanan. Dia cerita ngalor ngidul (terj: ngalor=ke utara, ngidul=ke selatan) sampai dia berkata, "Kalau kamu makan di Accord (nama rumah makan terkenal) sepuluh ribu kamu belum kenyang. kalau di warungnya Mbak Warti sepuluh ribu yo sak, ...." (terj: yo sak=ya sampai) Belum selesai dia bicara, aku menyahut, "Sak bakule !" (terj:plus penjualnya). Seisi klas tertawa mendengar hal itu. Kata Pak Suhari selanjutnya, ' Huss, .. sak kranjange, koq sak bakule !" Untung dech, ... aku tak ditempelengnya.
Pada waktu perpisahan tanggal sembilan Mei sembilan belas delapan lima kemaren, setelah acara usai anak-anak klas tiga dilarang pulang dulu karena disuruh berpamitan dan bersalam-salaman dengan bapak ibu Guru. Waktu aku bersalaman dengan Pak Suhari aku menasehatinya demikian, " Pak Hari kalau ngajar jangan suka nempeleng muridnya ya ?" Dia lalu menjawab "Ya, ... ya ..". Aku sendiri waktu itu juga heran. Koq berani-beraninya aku ini menasehati orang yang lebih tua. Guruku lagi. Bukan saja Pak Suhari, tapi juga Bu Sumini yang aku nasehati. Waktu aku bersalaman dengannya aku berkata, "Bu Sumini kalau ngajar yang sabar ya ?" "Ya ya ..!" jawabnya. Demikianlah kisah Pak Suhari yang membawa-bawa serta Bu Sumini. (Mei delapan lima hari sembilan & sepuluh)
Bu Suwarti
Dia adalah Guru Bahasa Inggris dan mengajar aku di klas tiga. tak banyak aku tahu tentang Guru ini. Yang jelas dia adalah seorang Guru yang sabar. Aku ada kisah tentang dia aku dan kedua belas temanku : Agus Priyanto, Angkat, Agung, Yunus, Suryanto, Sriyono, Agus Dwiyanto, Gatot Hendro, Joko Santoso, Priyanto, Arif Zubaidy dan Trikuswantoro.
Tanggal lima januari delapan lima jam sepuluh lima belas (plus) Pada waktu pelajaran, eh ... habis pelajaran Inggris (baru satu jam) istirahat. Yah, ... waktu istirahat setelah pelajaran bahasa inggris aku berjalan (sendiri) ke alun-alun bermaksud mau nonton sepak bola dalam rangka POR, antara kesebelasan SMP II lawan SMP Ngrambe. Sesampainya di alun-alun kedua belas temanku tersebut di atas tlah berada pula di situ. Lebih kurang sepuluh menit aku nonton, teman-teman mengajak ke klas kembali karena dirasa kami sudah lama berada di situ dan istirahat hanya berwaktu kurang lebih lima belas menit. Kemudian anak-anak yang lain selain aku, Angkat, Agus dan Priyanto kembali ke klas. Setelah kira-kira anak yang lain sudah sampai di klas aku dan kedua temanku bermaksud pula kembali, namun baru kami sampai di lapangan tenis terlihat anak-anak yang tadi kembali ke klas, berlarian hendak nonton lagi, alasannya mereka tak diperbolehkan masuk ke klas, ... Kami dan mereka pun akhirnya menonton sepak bola lagi. Usai pertandingan kami terpaksa masih menanti sampai istirahat soalnya mau masuk klas tak diperbolehkan. baru setelah bel tanda istirahat berbunyi kami ke klas. Setiba di klas anak-anak yang nonton sepak bola oleh Bu Suwarti disuruh ke BP. Akhir cerita ketiga belas anak nakal nan bandel itu disuruh membuat surat pernyataan dengan harus ditanda tangani yang berkepentingan, Wali Murid, dan Wali Klas. Demikian ini surat pernyataan yang aku buat yang copy nya masih aku simpan (For the memorys)
Tanggal delapan Januari waktu aku minta tanda tangan wali klas ku Bu Hastuti, dia bertanya, "Nyapo iki ?" "Minta tanda tangan untuk surat pernyataan", jawabku dan teman-temanku. "Ngono kuwi salah apa bener ?" Teman-temanku menjawab, 'Salah Buu .." lalu jawabku setelah teman-temanku "Katanya salah Bu". Mendengar jawabanku dia berkata, "Kalau begitu berarti kamu belum sadar, sini telinganya !" Aku pun lalu dicentilnya di depan Guru-guru. Malu sekali aku waktu itu. Aku tidak lekas-lekas diberi tanda tangan meski aku paling awal mintanya. Tiap kali aku minta, dia berkata, "Nanti dulu, kamu belum sadar koq. Sapa sing wis sadar gawa rene ?!" Semua temanku setelah diberi tanda tangan dicentil kedua telinganya. Tadi aku dicentil cuma satu telinga. Akhirnya dikasih juga aku tanda tangan. Sebelum memberikan tanda tangannya dia bertanya, "Kamu sudah sadar belum ?" "Sudah !" jawabku. Mungkin entah lupa atau bagaimana aku tak dicentil setelah dikasih tanda tangan sebagaimana layaknya temanku yang lain (Mei delapan lima hari dua tiga)

wkwkwkwk.....oalah om om.. bu hastuti ini lho om anang suruh maju
BalasHapusWah bisa kuwalat nanti Mas Topek. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati sekarang, gimana ya kabar beliau-beliau saat ini ...
HapusQ: "Ngono kuwi salah apa bener ?"
BalasHapusA: "Katanya salah Bu"
wkwkwkwk...
Baru nyadar sekarang, .. kalo dulu saya bandel ternyata, ... he he he ... Sekarang kalo ada siswa bandel ... jadi ingat masa SMP dulu ... he he he
Hapusbaru terasa om ya... hehe
Hapuscoba dg pertanyaan yg sama Ngono kuwi salah opo bener? kiro2 no sing jawab "katanya salah.." opo ora om,
terus om anang bilang,"ora ngono cah iki jaluk dikampleng opo py?" wkwkwk
ha ha ha ... Bisa aja Mas Topek ini, ... Kalo sekarang pertanyaan standart itu tetap saya pakai. Cuma nek pengin ngampleng yo gak nganggo takon disik Mas, .. yo wis langsung, kampleng aja, .. koq pake ijin segala, ... ha ha ha, .. jelas bocahe njawab gini "mboten Pak Anang, mboten njaluk dikampleng kula ... " he he he
Hapusha ha ha ... Bisa aja Mas Topek ini, ... Kalo sekarang pertanyaan standart itu tetap saya pakai. Cuma nek pengin ngampleng yo gak nganggo takon disik Mas, .. yo wis langsung, kampleng aja, .. koq pake ijin segala, ... ha ha ha, .. jelas bocahe njawab gini "mboten Pak Anang, mboten njaluk dikampleng kula ... " he he he
Hapushahahaha.... ampun pak, ampun ingkang kiwo mengken roto kiwo , tengen sekalian dikampleng ben simetris ora roto sebelah wkwkwk
HapusMas Topics iso wae, ... Yo wis ndang mapan Lhe .. he he he
Hapuswaaah kok masih bisa ingat pak, saya banyakan lupa momen2 waktu. hum banyak bahasa yg tak kumengerti pak, bahasa jawa itu. terjemahannya ada tak pak?
BalasHapusInsya Allah Mbak Hima. Coba nanti saya beri terjemahnya. Trima kasih kunjungannya.
Hapusada bukti surat otentik delapan empat, wwkwkwk
BalasHapusHe he he iya nih Mas Topek, ... masih ada beberapa lagi lho ... arsipnya, ... ada di Dokumen Kelas, ... SMP, ... Trims banget, morning-morning udah visiting .. he he he
Hapus